Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan

Membunuh Nabi Aksara

Rabu, 31 Desember 2025

0 komentar

Aku akan menistakan aksara dan rentetan kombinasi alfabet namun yang jelas adalah aku tidak menulis karena aku marah, aku tidak menulis karena aku kecewa dan aku juga tidak menulis karena aku berduka, aku menulis karena aku hidup. Tanpa menulis hidup adalah sebuah kesia-sian dan tanpa hidup menulis adalah sebuah kesalahan.



Meski hidupku lebih sering diisi dengan berbagai macam bentuk kesalahan dimulai dari hal yang fundamental hingga fatal meski beberapa kecil kemungkinan untuk dikonversi menjadi suatu pembelajaran. Namun apapun bentuk kesalahan yang telah aku lakukan tidak bisa dijadikan suatu pembenaran, bagaimanapun ini adalah aku yang senantiasa hadir dengan rentetan kesalahan di masa lalu atau mendatang.



Dan aku akan tetap berdiri di sini meski hanya seorang diri untuk berkelahi menghadapi nasib dan takdir dari sang Ilahi. Akan aku rapalkan doa yang tidak pernah diajarkan para Nabi dan dihujat para Sufi, aku akan berdoa dengan gejolak hati tanpa perlunya spesifikasi bahasa dan amalan yang terlalu sibuk dipikiri.



Jujur aku telah bosan dengan rentetan aturan yang mendikte tentang cara bagaimana menulis, cara berpuisi, cara membaca. Aku ingin membaca dan menulis dengan bebas sepenuhnya tanpa manipulasi sibuk memikiri sebuah konsekuensi tentang apa yang ku tulis, aku hanya ingin jujur dengan hati dan kepalaku sendiri dengan menolak intervensi.



Aku akan jujur dengan apa yang aku rasa meski itu berarti harus melawan, karena melawan adalah bentuk terindah dari sastra. Meski tidak hadir secara terus terang dengan membawa AK atau Bazoka namun melalui kata yang mengandung komposisi ekspresi jiwa yang telah ditempa dengan segala suka dan duka yang ada di dunia.



Lewat kata akan ku pertegas emosiku sebagai manusia lengkap dengan huru-hara beserta gelisah yang tidak bisa diceritakan dan bagikan secara telanjang. Persetan untuk menulis yang indah, persetan juga untuk menulis dengan sederhana. Aku ingin menulis sepenuhnya aku ingin menjadi Tuhan bagi tulisanku sendiri meski hanya dalam lanskap dan font virtual.

Dopa”mine”?

Jumat, 26 Desember 2025

0 komentar

Hingga kini aku masih mencari teori ideal apa yang paling relevan untuk mendefinisikan tentang suatu hal yang terjadi pada dini hari itu. Sebuah kejadian dengan perbandingan satu banding sejuta dalam probabilitas linimasa hidupku. Yang membuat senyumku sampai detik ini belum layu meski dihantam waktu yang tidak mengenal kompromi untuk menunggu.



Bulan dan bintang ikut menyaksikan apa yang terjadi pada dini hari itu, dan seluruh panca indra kembali bergairah untuk tetap terjaga menolak terlelap ketika dihadapkan dengan hal itu. Atap kamar dan layar monitor yang sedikit kotor tidak sedikit berhenti aku tatap sambil melahap dan berusaha memahami ulang apa yang terjadi saat itu.



Entah eksplanasi seperti apa yang mudah untuk dapat menjelaskan kejadian yang membuatku merotasi CD Brutal Corpse ke JKT48 dalam sekejap. meski hanya sekali dalam hidup hal itu membawa ku sedikit percaya tentang apa itu keajaiban. Pada saat itu juga aku mulai belajar memaafkan kemisteriusan bulan dan keagungan matahari.



Dan setelah hal itu terjadi Tuhan sepertinya telah terlambat untuk sadar bahwa dia telah menciptakan sebuah makhluk yang paling egois di muka bumi. Aku berharap hal yang terjadi pada dini hari itu selalu dapat berulang setiap waktu dan setiap kosa-kata yang terucap di kala itu bisa didengar setiap waktu pada sepertiga dan sepinya malamku.



Aku senantiasa berharap untuk bisa mencapai titik terjauh dari hal yang terjadi pada dini hari itu. Ingin rasanya menghancurkan batasan dalam bentuk tembok virtual untuk merasakannya lebih jauh secara aktual. Meski saat ini mungkin masih sebatas angan dalam daya khayal setidaknya semua terdefinisi lugas meski belum terdefinisi tuntas.



Terserah takdir akan memperlakukan perasaanku seperti apa, aku akan sepenuhnya mencintai takdir meski ia hadir dengan begitu brutal dan radikal. Biarlah jumpa nanti langsung menjadi final atau sebuah awal yang jelas itu tidak perlu diramal, Bila jumpa itu adalah final maka aku akan menjadikannya episode terindah dan bila itu adalah sebuah awal akan kupastikan hanya ajal alasan bagiku untuk berkata selamat tinggal.

Pancaroba

Sabtu, 30 Agustus 2025

0 komentar

“Kemungkinan terbesar adalah memperbesar kemungkinan dalam ruang ketidakmungkinan” – Homicide. Aku akan berangkat dengan tulisan meski pada akhirnya berakhir dengan molotov mengudara dari tangan sebagai definisi tuntas dan lugas puncak dari mobilisasi kemuakan. Terserah takdir akan membawa pada kemenangan atau kekalahan yang berulang, aku akan terus memprovokasi hingga akhir zaman mendampingi malaikat dengan sangkakala di tangan.



Kombinasi duet instansi badut komedi Polri dan TNI masih belum berakhir mereka adalah Tuhan, mereka adalah Tuhan tanpa ampunan, Tuhan yang penuh kejutan, manipulasi dan kemunafikan mereka bisa membuat siapa saja menjadi positif dalam setiap hasil tes urin persetan rentetan kronologis mereka adalah Tuhan di jalanan.



Atas yang terjadi belakangan ini aku belajar soal kesimbangan ayat dan nalar melintasi batasan Kitab dan Qur’an di saat kebenaran tidak lagi menemukan jalan jihad adalah jawaban. Jihad tidak melulu soal dialog, tidak melulu dengan perundingan negosiasi damai, jihad adalah sebaik-baiknya perlawanan sebagaimana Hasan al-Banna dan Abdel aziz al-Rantisi mengajarkan.



Sejak nurani Dewan Pembantaian Rakyat membungkam hak asasi dan menganggap kematian demonstran hanyalah angka statistik penurunan individu wajib bayar pajak. Serupa konspirasi terhadap Amir Biki dan vonis terhadap Jafar umar thalib bukti setiap janji manis ketumpulan komnas HAM dan rakyat diajarkan melupa dengan skandal dua sisi makan bergizi gratis menumpulkan nalar anak negeri sejak masih dini.



Kita harus memastikan bahwa apa yang diperjuangkan bisa dipahami setiap lini barisan. Pahamilah ini dengan teliti kita tidak punya garansi atas apa yang telah kita korbankan sejauh ini maka dari itu kita harus lebih berhati-hati bahwa iklim politik mereka yang nahkodai sejak siapapun yang terpilih bisa dengan mudah mereka setir  ke kanan dan ke kiri demi kepentingan dinasti.



Prilaku keserakahan dan daya konsumtif adalah senjata rahasia mereka, kita membeli produk mereka, mereka membeli hidup kita, mereka membeli tokoh agama kita, mereka membeli aktivis pergerakan kita dari keuntungan yang mereka peroleh dari kita. Meski kita adalah Kasparov dan bidak catur mereka adalah pembuat papan catur dan alurnya.



Terlalu dini meneladani Chomsky dan Gramsci sejak mereka membudidayakan nalar jelata lewat kurikulum yang mendangkalkan prilaku, budi pekerti, kepribadian mereka gerus sejak kita masih dini hingga jaman digitalisasi binner terkonversi menjadi propaganda media standar ganda penjaga citra sang pemilik kuasa.



Mereka menyadari tidak bisa menang dari luar mereka mencoba menyusupi dan merasuki dengan negosiasi jatah kursi, Aku rasa waktunya telah tiba untuk mempraktikan lembaran lirik Cannibal Corpse untuk mencongkel bola mata dan merubah Dewan korup menjadi Cyclopse sebagai petanda pesta baru dimulai menegaskan bahwa setiap hal tidak bisa diselesaikan dengan dibayar secara tunai.



Aku tidak mengetahui pasti kapan dan tidak peduli kelak bagaimana kematian akan datang menjemputku, Aku ingin hidup dengan kebebasan dan menolak segala bentuk kekerasan dan pemakluman terhadap tindakan brutalitas aparat di jalanan, karena mati di tangan polisi dan tentara selalu berakhir sama dalam variasi berbeda.



Ribuan alasan akan mereka keluarkan di muka lewat pers dan media yang mereka kontrol dan monitori melalui aliansi TV. Skenario minimnya bukti hingga kendala teknis matinya CCTV akan menjadi template berulang kali. Keindahan telah punah dari bumi sejak keluarga korban kekerasan negara menagih tanggung jawab dan setiap aksi kamisan hanya menjadi sekedar agenda mingguan tanpa respon lanjutan dari negara.



Bentrok besar-besaran lebih baik ketimbangan merawat dan terlelap pada kedamaian yang busuk. serupa mimpi Errico Malatesta waktunya merebut hak untuk berkehidupan dengan mempersenjatai diri menutut segala ketidakmungkinan. Ekspresi emosi terbaik  adalah dengan penghancuran membawa destruksi ke titik yang paling fatal.



Dengan membawa Feminisme paling manis dalam hikayat Emma Goldman aku akan merakit molotov sebagaimana meracik puisi cinta yang paling mesra. meski nanti berakhir diriku mati aku akan ikhlas seperti Sacco & Vanzetti menghadapi eksekusi.



"Aku berjanji untuk berpikiran waras dan cerdik, panjang akal dan berbahaya. Aku berjanji bertindak sedemikian rupa sehingga kamu tidak bisa menenggelamkanku dan mengepungku dalam kebungkaman. Aku berjanji untuk bergerak melawanmu dengan cerdas dan waspada, dengan seksama dan tenang, agar bisa memukulmu dengan halus dan kuat dimanapun aku bisa, sejauh aku punya cukup kekuatan, kalaupun tidak ada masa depan di dalam nya"- Alexander Brener

Tentang Laki-Laki Yang Setiap Hembus Nafasnya Adalah Dosa

Senin, 14 April 2025

0 komentar

Pagi telah tiba sang matahari hadir sebagai pengingat bahwa pesta dan segala macam bentuk keramaian itu harus usai. Lantas Laki-laki itu hanya tersisa menemukan dirinya seorang dengan sebotol Tequila di tangan. Hari yang terus berganti namun dia tetaplah menjadi dirinya sendiri menjalani hari tanpa jas dan dasi untuk berkelahi dengan segala macam bentuk nasib dan takdir dari sang Ilahi.



Di sepanjang jalan dia hanya menemui rasa marah atas megahnya gedung-gedung kapitalis perampas lahan resapan telah menghalangi sinar matahari yang seharusnya menjadi subsidi alami bagi masyarakat miskin kota. Namun untungnya sisa aroma parfum cinta satu malam dari perempuan yang tidak diketahui namanya itu masih bisa meredam gejolak rasa marahnya.



Dengan berusaha mencoba tenang sembari menyantap makanan, Dia akan memulai dan menutup hari itu entah dengan kesalahan atau kebenaran. Karena sudah jelas dia bukan orang yang suka belajar meski katanya orang harus belajar dari kesalahan namun baginya kesalahan adalah kesenangan dan belajar adalah sebuah sumber komedi yang memicu kebosanan jika tidak ada kesenangan.



Lagi pula kebenaran dan kesalahan tidak lebih hanya sekedar sudut pandang. Persetan benar atau salah pada akhirnya manusia akan mati juga yang jadi pembedanya hanya tentang menyandang gelar sebagai Raja Dosa atau Ahli Surga. Persetan juga dengan segala macam konsekuensi yang membawanya ke Surga atau Neraka laki-laki itu sepenuhnya percaya bahwa dirinya adalah Pelayar yang handal.



Hingga pada akhirnya malam telah tiba Laki-laki itu menunggu waktu yang tepat untuk pesta dapat dimulai, Sebuah pesta yang tidak lebih adalah sebuah peralihan atas atensi dari segala macam bentuk kemenangan, kesedihan sebagai nikmat meski berulang kali harus berurusan dengan sosok anomali dari instansi yang mengaku sebagai pangayom masyarakat yang rutin meminta hasil tes urin.



Memborong segala macam bentuk nikmat terlarang sebagaimana Adam melanggar pantangan menikmati buah pengetahuan yang membuat laki-laki itu percaya bahwa dengan kesalahan akan membawa segala macam bentuk kebermanfaatan di masa mendatang entah itu terang atau gelap yang lebih jelas dari rezim generasi emas.

Laki-Laki Di Persimpangan Margin Rasa

Senin, 24 Februari 2025

0 komentar

Hari telah berganti namun masih diikuti sebuah rasa tersembunyi yang tidak bisa diutarakan namun cukup lugas untuk terdefinisi secara tegas dalam sukma. Tentang sebuah ketidakpeduliaan karena itu adalah sebuah persoalan personal jadi masa bodo tentang segala macam duka dan jenis luka yang terjadi pada rapuhnya jiwa sehabis lelah sepulang kerja.



Siapa yang peduli dengan isi kepala dan hati seorang laki-laki selagi kakinya masih mampu berdiri sendiri meski dalam intervensi bunga bank Mandiri. Namun biarlah soal itu laki-laki juga masih merupakan manusia dengan segala macam kerumitannya yang bersemayam sebagai bagian isi tengkorak yang mendorong munculnya setiap jenis probabilitas untuk menggapai kesenangan atau sekedar renungan.



Dan sosok perempuan yang katanya hadir sebagai pelangkap namun entah pelengkap bagi siapa dan sampai mana. Karena dengan kerumitan hubungan antar manusia tidak menjamin definisi cinta dan rasa sayang berlaku sampai mati tiba. Yang jelas jika bilah lembaran kehidupan adalah sebuah cerita maka setiap tokoh mempunyai sebuah peran dan waktunya dalam cerita.



Ada perempuan yang hadir dan dirasa bisa menjadi sebagai tempat untuk bercerita. Namun sialnya bagi laki-laki itu, peran perempuan tersebut hanya sebatas teman berbagi cerita tentang apa dan bagaimana dan di sana tidak ditemukan adanya sebuah rasa di antara keduanya. Bagaimanapun juga hal tersebut tidak bisa disalahkan karena itu adalah bagian peran dalam skenario cerita.



Dan dalam perjalanan mencari kepingan sebuah pelengkap hidupnya laki-laki akan singgah di berbagai tempat baru serta berjumpa dengan perempuan baru yang ditemui dari lingkungan baru. Dan sialnya kali ini laki-laki merasa nyaman dengan perempuan yang ditemuinya namun tragisnya meski perasaannya berbunga-bunga ia sadar tidak bisa memilikinya dan perannya kali ini hanya sebatas pengagum rahasia.



Tidak terima dengan kenyataan laki-laki akan pergi mencari kesempatan dengan membuka lembaran baru. Memulai dari awal dan menyusun kembali kedekatan emosional dari fundamental dengan perempuan baru meski dengan misteri tidak adanya jawaban perihal kepastian laki-laki akan berjudi untuk mencapai bahagianya.

Metafora Mempertanyakan Kebahagiaan

Senin, 17 Februari 2025

0 komentar

Sebagaimana layaknya varian narkotika dalam memberikan candu kepada pengguna. Aku masih belum mengerti tentang banyaknya rentetan sumber kebahagiaan, maka dari itu aku mencoba untuk merasakan untuk melihat lebih dalam mencari sebab akibat dari candu akan kebahagiaan itu yang membelenggu pada otak terdalam sehingga mendorong siapa saja untuk menggapai candu itu.



Ada yang bilang salah satu bentuk kebahagiaan adalah ketika sang Ibu melihat senyum anaknya. Yang baginya lebih berharga dari rasa menahan lapar demi melihat anaknya dapat tidur dengan nyenyak sehabis makan dengan lahap. Seakan kebahagiaan selalu berjalan lurus dan berdampingan dengan pengorbanan.



Pertanyaan adalah bahagia seperti apa yang hari ini dicari? Entah dalam bentuk harta atau sebuah pengalaman pribadi tapi sepertinya setiap jenis bahagia mempunyai bentuk besaran harganya tersendiri, Dan manusia berada di tengah untuk memilih cara dan harga yang harus ia bayarkan untuk mendapatkan kebahagiaannya



Bahagia tidak lebih seperti arus transaksi yang menjelma menjadi hak asasi yang mendorong orang-orang akan secara rela untuk mengorbankan segalanya hingga menggadaikan hal yang di luar dugaan untuk mencapai bahagia, Maka bersyukurlah bila bahagia itu benar adanya dari semua apa yang telah diberikan, diperjuangkan entah itu ditemukan pada awalan, akhir atau sepanjang masa.



Dan faktanya tanpa sadar setiap manusia telah menjalani rutinitas dalam kehidupannya  sehari-harinya sebagai upaya untuk membangun sebuah struktur fundamental sebagai upaya untuk mewujudkan asas-asas kebahagiaannya. Seperti kehidupan seorang pekerja dengan rentetan rutinitas hariannya ia pergi membujuk rezeki terlepas dari konsep rotasi perulangan Mitos Sisifus dalam hikayat Albert Camus.



Meski akan selalu ada tantangan untuk beradaptasi dan bertahan hidup lebih dari itu terdapat sebuah motivasi untuk menggapai apa yang ada di dalam angan yang membuatnya bahagia. Seperti Duka hari ini yang belum pasti memastikan riang tawa di akhir pekan. Masa depan dan kebahagiaan adalah kesatuan pertanyaan yang jawaban akan datang pada waktu diluar dugaan dan perkiraan, Maka hidupilah hidup seolah engkau akan bahagia esok, Maka tertawalah meski engkau tau sakit hati esok.

Untuk Nona Di Surabaya

Minggu, 20 Oktober 2024

0 komentar

Ketika kita bertemu tidak lebih hanya bercanda dan bertengkar namun bagaimanapun kelak itu akan menjadi kenangan yang indah. Aku adalah si Gila yang akan mengajari mu untuk tidak pernah merasa takut lagi sebagaimanapun susah dan rumitnya emosi yang dirasa, meski sulit rasanya namun itu adalah kanvas ekspresi untuk gejolak jiwa.



Persetan dengan segala ragam variasi dunia fantasi bunga mimpi bagaimanapun aku akan pergi sendirian meski itu sangat susah. Namun akan terus ku bawa mimpi kita yang begitu indah tentang tertawa bersama untuk seterusnya. Diriku merasa bahagia dengan mu bukan dengan orang lain tapi saat ku terbangun ku temukan dirimu sudah tiada.



Aku selalu merasakan kita bisa menghabiskan waktu berdua sedikit lebih lama untuk seterusnya tapi itu hanyalah utopia yang aku percaya. Di sini aku sudah tak menyesal bahwa aku telah dilahirkan dan diberi kesempatan untuk mengenal dirimu di sana meski dengan cara yang tidak sebegitu mestinya.



Bagai festival yang telah berakhir meski selalu ada kesepian yang melanda namun biarlah. Sebangunnya aku akan pergi kemanapun dengan semua yang telah ku alami dan aku tunjukan kepada mu bahwa mimpi indah bisa terkabul. Walau meski kini terpisah dengan mu tak peduli sejauh apa namun di setiap pagi yang baru ini aku akan terus hidup.



Aku akan pergi sendirian meski aku hanya ingin mati, Di sini aku bisa mendengar jauh dirimu berkata pada ku untuk bertahan janganlah mati, meski itu sangat susah bahkan hanya untuk sekedar menangis sendirian namun dengan jelas bisa aku rasakan sebuah kehangatan hadirmu dalam gelapnya hatiku.



Waktu dan keadaan senantiasa selalu berubah aku tak bisa mengingat untuk setiap hal yang telah terjadi maupun memprediksi kelak apa yang akan terjadi. Namun yang aku temui ialah jika aku menutup mata suara dari lain dirimu terdengarkan yang entah mengapa saat ini menjadi bagian berharga dalam keseharian melawan rentetan monokrom dan monotonnya hidupku.

Paranoia Maha Gila : Menghujat Cinderella

Minggu, 18 Agustus 2024

0 komentar

Dari dimensi sudut pandang lain Tokoh Cinderella tidak lebih adalah perempuan yang paling manipulatif, yang sama-sama dipahami selama ini dia adalah sosok paling menderita dan tersiksa dalam cerita, namun itu hanyalah sebuah "kesengajaan" dan merupakan bagian dari rencana besarnya.



Ayah Cinderella adalah laki-laki terpandang secara status dan harta. Cinderella adalah anak perempuan cantik yang haus akan kuasa, maka dari itu dia merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya untuk membuatnya seakan meninggal. Semua didasarkan karena Cinderella iri dengan kakak tirinya yang akan disekolahkan di luar negeri oleh sang ayah,



Pasca kematian ayahnya Cinderella mempunyai hak penuh atas warisan dari sang ayah. Namun ia memilih untuk dengan sengaja "mengalihkan" hak tersebut kepada Ibu tiri, serta sengaja menjadi pelayan bagi kakak dan ibu tirinya. adapun ini salah satu bagian rencananya agar terlihat menderita untuk memperoleh atensi dan rasa kasihan oleh pelayan lain di rumah pasca kematian ayahnya.



ia berhasil menempatkan Ibu dan kakak tirinya adalah musuh utama dalam cerita. Hingga tiba pada malam pesta Dansa ketika Kakak tirinya pergi ke istana Cinderella memilih menyusul untuk sengaja datang ke pesta terlambat, Cinderella tiba dengan gaun terbaiknya ia menjadi pusat perhatian dalam pesta.



Sejumpanya dengan Kakak tirinya di pesta ia bertingkah seperti pelayan yang melayani tuan Kakak tirinya yang berada dalam pengaruh alkohol menjadi kesal dan menampar Cinderella atas tingkahnya tersebut.Pangeran yang melihatnya mengusir kedua kakaknya, Cinderella akhirnya berhasil menarik perhatian para tamu terutama sang Pangeran



Ia lalu berdansa dengan pangeran namun menjelang tengah malam Cinderella berpamitan pulang karena merasa bersalah terhadap kakak tirinya,



keesokan harinya Pangeran datang ke rumah Cinderella, Pangeran mendapati bahwa Cinderella terlihat seperti diperbudak oleh Ibu dan kakak tirinya. yang sangat berbanding terbalik sebagaimana hak waris dari ayahnya.

 

 

Pangeran yang melihatnya marah dan mengusir Ibu dan Kakak tiri cinderella dari Rumah, Pangeran yang melihat merasa kasihan atas penderitaannya dan menikahi Cinderella, maka ambisi Cinderella untuk menjadi keluarga kerajaan akhirnya tercapai dan ia merencanakan rencana selanjutnya.



Pada akhirnya Ibu dan Kakak tirinya merasa bahagia karena menjemput kebebasan pasca penderitaan atas kemanipulatifan yang telah berakhir.



Tamat.

Surat Cinta Untuk Perempuan Yang Tidak Bisa Disebutkan Namanya

Sabtu, 10 Agustus 2024

0 komentar

Holla Mi Amor, bagaimana kabarnya? Saya harap dalam keadaan baik, sehat dan tersenyum meski dalam berbagai macam kesibukan. Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas tulisan ini yang secara sadar dan saya paham bahwa tulisan ini akan sepenuhnya mengganggu sela-sela kesibukan perjalanan akademik dan karirmu.



Sayang, sebelumnya saya akan minta maaf terlebih dahulu sebelum kamu membaca lebih jauh tentang tulisan ini. Sebab tulisan ini akan bikin kamu resah dan gelisah karena bagaimanapun juga saya tidak seperti biasanya untuk membuat tulisan seperti ini.



Sepertinya dalam tulisan ini kamu akan menemukan banyak kata maaf, Bisa dibilang tulisan ini adalah orasi singkat tentang apa yang telah kita jalani bersama kala menjalin hubungan dari hal konyol hingga tolol yang saya perbuat. Tapi percayalah saya tidak bermaksud buat membuat dirimu menangis dan kecewa, Dan perlu dipahami tulisan ini adalah penjelasan singkat tentang apa dan bagaimana saya.



Seharusnya kamu sadar bahwa kamu menjalin hubungan dengan manusia yang paling egois di muka bumi ini, Tapi saya selalu heran dengan apa yang kamu bilang ke saya bahwa “Saya itu aneh dan berbeda dari kebanyakan orang lain” dari situ saya kepikiran apakah saya salah satu makhluk SCP yang kabur dari lab penelitian?



Padahal bagaimanapun juga saya juga punya dua tangan, dua mata, dua kaki, serta bernafas masih menggunakan sistem paru-paru seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya. Atau mungkin kamu terheran-heran dan masih memperdebatkan tentang setelan outfit apa yang saya pakai dari sepatu, celana cargo sampai kaos band yang didominasi warna hitam di lemari saya.



Mungkin kamu masih terheran dan engga mengerti tentang berbagai macam istilah Metal, Punk, Hip-Hop, Hardcore, Zine, hingga Che Guevara dan segala macam istilah filsafat pemberontakan yang sering saya bicarakan di kala kita bersama yang kamu anggap sebagai sesuatu yang jauh dari adab, norma dan etika.



Kamu selalu bilang ke saya untuk bersikap lebih dewasa, Tapi saya sendiri masih heran apakah makna dari dewasa tersebut, terutama dalam hidup dan menjalaninya. Karena setelah saya baca lebih jauh ke dalam. Saya menemui bahwa diri saya masih suka maraton film animasi Disney dan baca komik Donald bebek. Maka persetan dengan apa itu dewasa jika saya tidak menemukan kesenangan di dalamnya.



Baiknya kamu lebih peduli dengan kedua orang tua kamu agar belajar dan bekerja yang rajin dan fokus agar kelak berguna bagi bangsa, agama dan diri sendiri. Kamu harus lebih memberi perhatian lebih pada UTS dan UAS mendatang untuk mempertahankan IPK kamu. 



Aku yakin kamu lebih jatuh cinta pada rentetan rumus kimia dan eksplanasi panjang teori matematika dan sepenuhnya naksir sama kakak tingkatmu yang dapat Beasiswa ke Australia. Tapi bagaimapun juga terserah bagaimanapun itu adalah segi kehidupan kamu yang sepenuhnya berbeda dengan saya.



Saya telah banyak dikecewakan oleh lingkungan dan saya juga menyadari bahwa akademis bukanlah dunia yang tepat bagi saya. Terus terang saja bahwa saya tidak suka dan puas dengan segala nilai norma yang saya peroleh dari sekolah dan kuliah.



Maka dari itu saya memutuskan pergi melihat lebih luas di Jalanan untuk merasakan kehidupan yang lebih hidup dari sekedar teori sosiologi dalam bacaan. Karena di sana saya belajar untuk protes dan menulis segala jenis bentuk puisi, essai dengan cara dan gaya yang saya suka.



Dari situ saya memperoleh banyak arti dan belajar tentang norma hidup, dan dari situ juga saya belajar untuk mengerti dan memberi arti. Meski kamu melihat kawan-kawan saya tidak lebih dari sekumpulan pemuda-pemudi pengangguran tapi biarlah semua terserah padamu sayang.



Sayang, terus terang sering kali saya terpikir soal masa mendatang terutama soal pilihan hidup yang saya pilih. Saya selalu bertanya-tanya apakah yang saya pilih sebuah awal kebaikan atau sebuah awal dari sebuah kehancuran.



Hingga pada akhirnya kamu lelah untuk bertanya kepada saya tentang “Hidup seperti apalagi yang sebenarnya saya inginkan?”. Terus terang aku tidak ingin menggurui mu soal kehidupan karena saya sendiri juga masih belum mengerti apa itu kehidupan.



Konon katanya mencari makna kehidupan itu seperti mengkonsumsi kentut para filsuf yang mempunyai baunya masing-masing. Tapi sepertinya kamu termasuk yang percaya bahwa teori hidup yang ideal adalah untuk sekolah, berkarir berkeluarga dan meninggal adalah bentuk siklus kehidupan yang paling normal untuk didambakan.



Tapi biarkanlah saya masih ingin untuk tetap terus bereksperimen dengan hal-hal yang saya mulai dan akhiri dalam perjalanan hidup saya. Terlepas itu baik dan buruk biarlah diri saya sendiri yang menilai karena bagaimanapun kamu juga pasti mengerti bahwa kebaikan dan keburukan mempunyai versi dan kapasitasnya tersendiri bagi setiap manusia di bumi ini.



Maaf kalau yang saya tuliskan tentang kehidupan membuat kamu pusing. Namun semoga saja kamu dapat menyadari dan mengerti segala macam bentuk keegoisan dan tingkah laku saya. Amatlah sangat wajar dan manusiawi bila kelak kamu ingin mempunyai pendamping yang bisa membuatmu bahagia dan memberikan kepastian masa depan yang jelas.



Tentunya itu semua tidak dapat kamu temukan pada diri saya, namun bagaimanapun itu juga bukanlah permasalahan. Mau tidak mau suka tidak suka saya akan menghadapi kenyataan itu. Saya tidak akan lari apalagi bersembunyi seperti pengecut. Untuk sementara ini saya hanya ingin bicara jujur tentang kenyataan yang ada di depan saya, maka dari itu biarkanlah diri saya sendiri yang merubah saya.



Sayang, saya juga sadar bahwa selama kita bersamaan saya belum pernah mengajakmu nonton film romantis yang lagi tayang. Ataupun mempersembahkan sebuah kejutan berupa sekuntum mawar dan sekotak coklat saat Valentine tiba. Hingga pada akhirnya ajakan untuk candy light dinner di restoran yang paling romantis di Ibu Kota sepenuhnya gagal karena kamu tidak dapat izin dari ayah dan mama.



Atau pernahkah kamu melihat saya datang ke rumah dengan kemeja terkenal, celana berbahan katun dan sepatu bagai orang kantoran lengkap dengan aroma parfum Christian Dior. Lalu setelahnya saya mulai bicara tentang masa depan berdialog tentang semua rencana kita kedepannya.



Sayang, saya tidak bermaksud untuk mendoktrin kamu agar mengerti siapa saya beserta segala macam keegosian yang ada di dalamnya. Kamu bebas menentukan jalan dan arti hidupmu begitu juga dengan saya.



Kita adalah individu merdeka, Bagaimanapun kehidupan itu adalah milik kamu, Milik saya dan setiap makhluk yang masih bernyawa mempunyai hak atas kehidupannya tersendiri. Hidup ini terlalu indah untuk dijalankan secara monoton dan saya juga tidak mau menggurui kamu tentang kehidupan beserta berbagai masalah yang begitu kompleksnya.



Tapi yang pasti jelas saya ingin sepenuhnya memberitahu kamu bahwa kehidupan itu indah, brutal dan liar. Mengenai tentang pandangan kamu terhadap kehidupan itu semua terserah kamu.



Sebelum tulisan dan keegosian ini berakhir saya ingin berterima kasih ke kamu untuk segala macam bentuk saran dan masukan nasihat dari kamu. Saya sepenuhnya mengerti bahwa kamu ingin yang terbaik bagi saya.Saya menghargai itu dan akan menyimpannya sebagai pertimbangan.



Bagaimanapun saya cinta dengan kehidupan saya sendiri. Terserah dinggap gila maupun gagal, di sini saya masih tertawa dan berdansa menikmati kebahagiaan di jalan hidup saya. Meski saya tersesat dalam besaran Samudra saya akan terus menikmatinya seperti pelayar yang handal.

Kau Musuh Utama Di Sebuah Cerita

Kamis, 08 Agustus 2024

0 komentar

Aku tidak lagi mengerti berbagai bentuk macam skenario apalagi yang akan dibentuk untuk membunuh sebuah pribadi, oleh engkau sang maha penguasa penentu tafsir benar dan salah. Mungkin tidak lain ia adalah bentuk Tuhan modern yang hadir dalam bentuk pegawai korporasi penjaga rotasi waktu 24/7 untuk memastikan pasak selalu untung lebih besar dari pada rugi.



Persetan dengan segala macam bentuk norma dan hak manusia karena baginya segalanya hanya tentang profesi, yang amat lucu mengelak dari segala macam bentuk sopan santun kritik, Maka saat ini juga Tuhan modern itu telah berubah menjadi Tirani yang menentukan takdir pekerja sejak dari pagi hari hingga menyambut mati.



Baginya ideologi telah mati, karena dari 8 ke 5 hanya tentang transaksi jadi masa peduli tentang segala macam gundah yang orang hadapi. Pertemanan tidak lebih dari sebuah ilusi sejak segala macam bentuk komunikasi tidak lebih hanyalah kepentingan untuk memperlancar keluar masuk arus kas pada setiap transaksi yang diporsi dalam upeti.



Entahlah metode doktrin dan imaji metafora apalagi yang akan ia terapkan, Sejak semuanya harus diberikan dosis kesadaran bahwa tidak ada keluarga dalam struktural organisasi, Kita adalah keluarga tidak lebih hanya sebuah bualan, karena keluarga tidak akan pernah menghabisi siapa yang berdiri di lain sisi dalam dimensi opini karena baginya ini adalah dendam pribadi.



Dari mata sinisnya berkumpul dan berkuluh kesah adalah bentuk provokasi sejak kisah mereka yang tidak lebih hanya unit satuan korban bernasib sama saling berbagi dan berkisah. Persetan juga untuknya beserta juga dengan segala macam bualan ajakan berdialektika, karena untuknya etika tidak lagi ada, sejak sang maha tata krama lupa di tempat apa dia bertindak dan bicara yang mungkin ia telah lupa bahwa panggung telah menemui ujungnya.



Dari gang hingga jalanan semua harus mengerti segala macam bentuk status pekerja adalah buruh. maka dari itu pahami betul kemana jari tengah harus tertuju. Bagaimapun juga Ini masih bukanlah akhir. Aku akan pergi, saya akan menebar bunga di tempat yang telah menghina saya dan saya akan pergi sambil tertawa seperti Lucifer meninggalkan surga.

Punk : kata Mama

Minggu, 28 Juli 2024

0 komentar

Kata Mama Punk bukan selalu tentang model berpakaian atau playlist musik di platform kesayangan, Karena katanya lebih dari itu Punk adalah tentang bagaimana setiap upaya menghidupkan berbagai macam cara untuk memboikot Zionis dalam bayang wacana toleransi. Dan setiap pemenggalan harus terus ditagih untuk dibayar lunas meski plot sang maha korban berharap ampun di hadapan linggis terayun.



Mama berkata pergilah keluar untuk menjemput kebenaran yang mempunyai berbagai macam bentuk penjelasan dalam setiap varian versinya, berangkat dari menyelami panjangnya tulisan, terhanyut dalam sesi obrolan hingga memaknai setiap coretan protes di tembok sepanjang jalanan, Karena katanya kebenaran tidak akan begitu saja hadir tersaji di meja makan apalagi di Ruang Rapat paripurna para dewan.



Katanya apa guna ricuhnya Gedung Putih jika Tepi Barat adalah masalah yang jauh lebih nyata dibanding normalisasi global hak kelompok LGBT, Bicara matematika bicara data, dan sajian angka statistika untuk setiap gugurnya nyawa di Palestina yang muktahir diperbarui media dalam kebutaan mata dunia yang menjadi sekedar kabar singgah di lini masa.



Mama berpesan untuk berhati-hati terhadap setiap skenario dan intrik cetak biru operasi inteligen, dari Jakarta Hingga Gaza penyusup selalu ada di mana-mana. Entahlah sejauh mana negara akan terus berjualan slogan usang rakyat berkuasa, Jika faktanya hari ini negara lebih memelihara ormas dan preman dibanding pengembangan untuk masyarakat di ujung desa yang hanya dipedulikan saat pungutan pajak dan suara.



Kata Mama Punk tidak berarti secara gamblang berjalan sendirian dengan penuh keyakinan atas diri sendiri untuk mempertahankan suatu pendirian dalam sebuah pilihan, Punk juga berarti menebar bara untuk menyulut api kesadaran dalam sebuah kegelisahan bersama, Merajut solidaritas lintas batas dari jalanan hingga perguruan untuk merangkul kawan walau kemungkinan menang hanya setipis utopia khayalan.



Yang terpenting dari Punk kata Mama adalah tindakan, Jadikanlah mulut sebagai sumber puisi yang subur bukan menyimpan bangkai. upayakan setiap prosess adalah palu yang kuat memukul dalam konsistensinya. Wujudkanlah kegilaan dari teori yang ditemu dari buku yang dibaca dan jemputlah kebenaran dari kesalahan yang ada.

Tentang Semalam

Rabu, 05 Juni 2024

0 komentar

Kembali terbangun kesekian kalinya di siang hari untuk menatap kembali matahari yang kini telah hadir sebagai teman menghadapi rasa bosan. Masih dengan rasa tidak peduli untuk menjadi manusia yang juga diikuti rasa lelah, menghadapi hari-hari yang nampak tidak berarti dan tidak lebih hanya sebuah perulangan berujung menjadi sebuah tragedi.



Dan pada akhirnya telah tiba giliran sang malam, waktunya untuk mengencani bintang untuk sekedar mengusir rasa sepi, Walau dengan brutalnya gejolak batin sepanjang hari dan sepanjang minggu ini telah banyak mengisi kepala aku berjanji apapun yang terjadi di malam ini dan siang tadi tidak memastikan sebuah kesedihan di akhir pekan.



Tiba pukul 1 malam waktu yang tepat pesta untuk dimulai, muda, liar dan penuh hasrat kesenangan itu terjadi ditemani alkohol yang tergilir botol demi botol, Dengan pikiran kotor dan juga wanita cantik berhati rapuh yang ku kecup pipinya membuat ku lepas menangis dan tertawa untuk mulai membicarakan cinta yang amat begitu sakitnya.



Aku sepenuhnya mengerti tentang waktu kapan kala terakhir kali kita bertemu, dan semenjak itu persinggahan itu seperti bertamu yang tidak terduga kapan untuk dapat kembali bertemu, Biarlah waktu dan tempat yang akan menjawab di kemudian harinya. Di sini aku hanya berharap agar senyummu tidak layu dan berubah menjadi palsu.



Dari tulusnya air mata aku belajar tentang kekuatan memaafkan dan mengikhlaskan, Tidak lebih kita adalah manusia yang hanya membutuhkan pengertian, Dan pelukan bukan juga jawaban atas segala macam bentuk cobaan yang telah disajikan Tuhan. Selalu ada berbagai bentuk alasan namun pada akhirnya tujuan singkat dari utas hidup adalah untuk menghadapi kenyataan.



Hingga akhirnya yang terjadi di kota kembang itu kini sudah menjadi masa lalu, dan tidak lebih telah menjelma menjadi bagian dari cerita latar belakang kita. Segala bentuk cerita canda, tangis dan tawa yang kita rakit dalam pelukan tanpa sadar akan segera menemui ujungnya bersama hati yang mengarah menjemput cinta mengikut arah mata angin bahagia.

Mimpi Basah Sang Perakit Bom Waktu

Minggu, 26 Mei 2024

0 komentar

Dalam berbagai sudut pendapat mimpi tidak lebih dari bunga tidur, Namun biarlah siklus mimpi itu tetap dalam pola singgah dan berlalu, setidaknya masih ada yang memberi warna kepada jiwa di kala raga terbaring menyelami malam dan purnama. Hingga pada akhirnya waktunya tiba dan semua akan berakhir sebagai tanda untuk kembali bangkit menata cita dan asa.



Hidup memanglah indah namun mimpi masih terlalu indah dan hanya berakhir sebagai utopia. Aku melihat diriku dan mereka tentang ekspetasi terjauh persinggahan di kala sepenuh mata lelah tertutup, setiap renungan terhadap jeruji derita dan lamunan di saat dinding kota terlalu begitu sempurna untuk menjadi saksi bisu atas segala macam jenis peristiwa dari manusia dan ragam kisahnya.



Menghidupi hidup sepenuhnya sebagaimana menikmati mimpi seutuhnya. Meski mimpi terlalu indah untuk diwujudkan namun entahlah jenis dosa dan pelangaran seperti apa yang dapat dimanfaatkan oleh negara untuk merenggut seseorang dari mimpinya. Aku percaya mimpi adalah bentuk kemewahan, Bermimpilah selihai Maradona atau seliar Zarathustra meski itu terlalu gila dan terlalu indah untuk tumbuh subur di Tanah.



Seperti elang yang dengan gagah mengangkasa lantas apakah terlalu gila memperoleh kebebasan dan kemudahan memperoleh kesetaraan dan kesamarataan pendidikan di bumi anarki ini? Untuk menegaskan bahwa rambut, warna kulit dan status sosial boleh berbeda namun isi dalam kepala memperoleh kesempatan yang sama. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk mempertanyakan kesaktian sila lima dan maknanya.



Atau tentang nasib warga di ujung pelosok desa yang memperoleh kemenangan atas hak berkehidupannya sembari berpesta mengeksekusi para mafia tanah, di kala negara hanya peduli akan upeti pungutan kotak pajak dan suara. Dan tentara menjadi buta mata kala perintah komando menjelma menjadi perintah Tuhan untuk membenarkan segala macam insiden kaliber peluru yang bersarang di dada.



Wahai kekasih akan ada saat di mana romansa akan abadi, Dari tangis yang tersisa hanya air mata bahagia dalam canda tawa. Setiap orang akan menemukan definisi bahagianya dan jauh di Alengka sana Rahwana akan kembali tertawa.

Dari Pablo Neruda Hingga Milan Kundera

Rabu, 15 Mei 2024

0 komentar

Aku berjanji tidak akan berhenti mengeja karena di hadapannya aku tak lebih hanya seorang bayi yang tidak mengenal adanya api. Begitu banyak rentetan hutangku pada sang aksara, maka dengan sepenuh mata pena dan waras yang masih tersisa dan terjaga aku akan terus menghidupinya dengan memberinya makna.



Bagaimanapun kematian akan dihadapi dan yang telah mati masanya telah terlewati. Namun bagaimana atas rasa sedih yang singgah di hati, Bermanuver dengan skenario Tuhan tentang waktu dan kesempatan yang diberi untuk memberi bumi makna, meski masih banyak tersisa berbagai rentetan luka yang masih belum terdefinisi di kolong langit ini



Aku pastikan puisi dan esai-esai indah itu akan terus abadi di Bumi ini, sebagaimana pijar cahaya pengetahuan yang sejatinya ialah tentang sebuah bentuk kebermanfaatan. Sebuah mahakarya tentang proses bagaimana memoles imajinasi ruang otak untuk mencipta dan menggapai bentuk terindah dari huruf dengan kemampuan bersajak membawanya ke titik level terjauh yang akan terus subur meski jasad telah dikubur.



Sebagaimana janji pada diri sendiri yang akan terus hidup meski kematian nampak jauh lebih menggoda dari pada kehidupan itu sendiri. Tetap berjanji kepada diri sendiri untuk terus menghidupi hidup sepenuhnya meski mengisinya dengan kegilaan untuk mencari kebahagiaan jika benar adanya sebagaimana seorang gadis cilik di kala mendapati krayon.



Persetan dengan segala macam bunyi anggapan yang menyatakan bahwa kombinasi kegilaan dan kebebasan adalah bentuk kebrutalan. Dalam sistem bahasa aku berjanji untuk tiada henti mencipta, Sebagaimana pelayar yang menjemput datangnya badai, aku sepenuh sadar akan datang menantang kutukan dan mengutuk setiap pantangan sehingga semua yang tersisa hanya tentang aku dan tulisan.



Aku harap Tuhan di sana tidak mengizinkan aku mati terlalu dini agar masih dapat untuk merawat janji untuk terus berbagi Api, Meski nampak bodoh dan terlalu dini untuk peduli tentang gambaran terindah tentang surga nanti. Namun yang pasti aku yakinkan niscaya surga nanti adalah perpustakaan dan syair-syair akan senantiasa terselip dalam senandung doa yang menenangkan jiwa dari kegelisahan.

Blasphenemy

Rabu, 10 April 2024

0 komentar

Mempertanyakan kembali tentang arti kembali ke Fitri sejak kapitalisme begitu selaras bercengkrama dengan ketupat lebaran, Dan setiap peringatan hari suci tak lebih dari pesta pora arus transaksi yang menjadi komoditi dalam sumbang asih Democrazy. Lantas apakah arti jabat tangan jika tersembunyi berbagai macam plot intrik skema untuk menggapai kepentingan suatu golongan.



Aku bersaksi atas laba yang tercipta dari setiap botol coca-cola yang tercipta menjadi Molotov bagi aksi jihad para Syuhada, Sebagaimana dilema tidak lagi mengerti ke arah mana sebenarnya harus aku merasa iba kepada sang penemu benua Amerika atas pembantaian suku Inca, atau seorang pengunjung Ka’bah yang tidak menyajikan suara atas darah di Palestina.



Sebagaimana globalisasi meracuni generasi agama Ibrahim melalui media yang telah menempatkan Teroris adalah Masjid dan penjaga Tauhid. Sebuah fenemona yang lebih menyedihkan dari Bir Bintang 0% alkohol yang ternyata pada hari ini telah cukup efektif untuk membuat generasi muda penerus agama ibrahim mengarah menjadi sosok tolol.



Aku berada dalam pusara dakwah di mana orang menjual surga dan neraka untuk keperluan politik yang membuat semua hal menjadi lebih rumit. Sebagaimana menakar jauh tentang mimpi basah MUI tentang ekonomi syariah yang faktanya masih belum dapat menghapus intervensi IMF dan Riba korupsi yang bersemayaman dalam tubuh jajaran BUMN.



Menyuarakan anti genosida sembari menjilat keuntungan dari bisnis minuman keras dan legalisasi bisnis air lendir kamar hotel yang terlindung dalam balutan hukum yang kini masih dapat duduk dengan manis dalam secarik kertas bertajuk legalitas. Semoga kita tetap waras di kala segala keperluan secara terselubung disulap menjadi pundi-pundi sumber korupsi dan penggelapan.



Apakah guna menempatkan diri sebagai nonblok namun rutin konsumtif produk dari poros kanan maupun kiri, Maka terus berlanjutlah mimpi panjang anak negeri untuk dapat berdiri tegak sendiri menata ekonomi tanpa campur tangan Bank Mandiri, Dan semoga mereka dapat mengeri bahwa petani sejatinya tidak butuh campur tangan Tanoe dan rentetan aliansi TV.

Mrs.D.S

Selasa, 05 Maret 2024

0 komentar

Tiba hari bagi ku memutuskan untuk menerima segalanya tentang nyala kembang api di langit malam puncak penghujung festival, yang hadir sebagai penutup segala gundah dan duka dengan keindahan warna yang ada padanya. Ia mewarnai angkasa nampak begitu indah namun juga begitu amat sangat menyakitkan dalam hikmatnya sebuah rentetan perasaan.



Demi angin yang berhembus pada lini waktu tidak akan ku lupakan waktu-waktu bersama dirimu yang disi dengan mimpi dan harapan kita bersama, ku ingin kau tau bahwa sampai kapanpun aku akan terus berseru mengucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalam. Dan dengan melalui tulisan ku ciptakan sebuah bentuk perpisahan dan ucapan selamat tinggal.



Kau akan bahagia dan tertawa lepas di jalan pulang kembali menghadap masa-masa indah mu. Dengan aksara yang berkomposisi dengan air mata aku akan memanjatkan rasa syukur atas memori yang indah ini, sejak aku sadari tak ada yang bisa aku lakukan dari sebuah kesempatan dan kepergian yang terlambat untuk disesalkan.



Pada akhirnya dengan senyuman menahan air mata aku diharuskan mengucapkan selamat tinggal, Ku harap tuhan masih mengizinkan untuk berkabar sebagaimana bulan dan mentari yang tidak akan bertemu namun tetap setia dalam sebuah rotasi mengisi posisi dan sama-sama saling berjanji untuk menghidupi hari dengan pancaran sinar dan memberikan ketenangan di kala malam.



Tidak akan luput setiap inci ruang yang senantiasa  berkisah menuturkan rangkaian cerita bersamamu, Seusai tulisan ini diselesaikan aku pergi keluar menatap bintang-bintang merenungi air mata yang terkucur dari wajah sedih mu, Meskipun itu masih terasa sakit aku mohon berhentilah untuk engkau tangisi karena aku suka melihatmu saat engkau tersenyum.



Rasa bahagia, canda dan tawa yang ku peroleh aku harap tidak akan berakhir, Meski pada akhirnya aku akan pergi jauh, ingatlah tentang mimpi-mimpi yang sama-sama kita harapkan untuk dapat diwujudkan. Kejar dan hidupilah mimpi-mimpi indah itu dan saat dewasa nanti aku akan melihatmu kembali maka berjanjilah untuk terus hidup Sayang.

Hiduplah Walau Kematian Begitu Menggoda

Minggu, 18 Februari 2024

0 komentar

Waktu senantiasa berpacu diikuti satuan jam dan rentetan detik yang tidak kenal menunggu, Bagi jiwa yang terbelenggu oleh masa lalu maupun masa nanti yang tidak mengenal belas kasih. Lantas kau kembali mencari apa arti dalam pentas komedi ilahi sebagaimana pencarian Ibrahim akan Tuhan hingga pada akhirnya ia diperintah untuk mengorbankan keturunan.



Selalu ada mimpi-mimpi terjauh yang tercipta dari pikiran untuk menjadi cambuk kebahagiaan memperjuangkan perulangan bernama kehidupan. Meski di baliknya selalu ada tamparan kesadaran terdekat atas ketidakmampuan akan mimpi-mimpi yang banyak itu. Menempatkan mimpi bukan hanya sekedar berperan sebagai bunga tidur selagi mati semu hingga kau menyadari bahwa mimpi adalah sebuah candu.



Dari lain sisi kematian yang sering kali dideskripsikan oleh manusia dengan segala macam keburukan, penderitaan dan kesedihan nyatanya jauh lebih menggoda dan lebih masuk di akal, bahwa dengan berhentinya hembus nafas adalah berakhirnya raga. Selebihnya tinggal melanjutkan perjalanan jiwa ke dalam rentetan tahapan berdasarkan varian doktrin kepercayaan yang engkau percayakan.



Langkah untuk menuju kematian akan senantiasa jauh lebih menggoda dari pada memperjuangkan kehidupan itu sendiri. Percaya bahwa dunia hanyalah titipan dan sementara juga bukan merupakan sebuah kesalahan. Namun menyambut kematian dan menjemput kematian adalah sebuah perbedaan jelas. Yang jelas ialah pasti bahwa semua akan tertinggal bila mati baik kekayaan maupun kebanggaan atas diri sendiri.



Meski begitu teruslah untuk dapat hidup, persetan dengan ribuan tanya filosofi yang sibuk engkau pikiri sembari menyeruput kopi. Karena filosofi tidak lebih hanya sebuah kentut para filsuf. Hiduplah meski dengan derita yang akan menerpa, Hiduplah seperti Cendrawasih yang akan indah bila ia sepenuhnya merdeka. Hiduplah seakan engkau akan mati di hari esok.



Walau pada akhirnya kematian akan menjadi tujuan akhir yang pasti, Namun jauh sebelum menyambut mati selalu ada sosok orang terkasih untuk menjadi tempat kembali, di saat menggebunya sebuah hasrat untuk mengarahkan moncong senapan ke kepala, Maupun kesedihan yang melahirkan hasrat mencipta karya seni 3 dimensi dengan belati pada urat nadi.

Distopia Primordial

Minggu, 31 Desember 2023

0 komentar

Banyaknya kawan yang mati karena usia ada juga yang mati karena tentara keduanya seakan sama saja tidak jauh berbeda sama-sama menegaskan bahwa pada akhirnya ini hanyalah sebuah perjalanan usang menyambut mati. Namun konon sebelum mati manusia akan dihadapkan sebuah opsi kondisi mati yang berlandaskan kebiasaan dalam kehidupannya sehari-hari.



Ada yang mati terlihat bijaksana dalam ibadah di sepertiga malam, ada juga yang mati dengan binal dalam kombinasi alkohol dan narkoba yang nampak bersahabat di malam ke-lima pesta setelah pulang kerja. Namun seakan memilih untuk memutuskan matinya diri sendiri adalah tindakan haram yang sangat tidak terpuji di hadapan sang mata Ilahi.



Namun mengapa Tuhan seakan ingin menang dalam segalanya. Seakan memilih untuk bunuh diri adalah suatu penghinaan dalam skala terdekat menjual Tuhan bagai Yudas. Apakah Tuhan tidak ingin ditentang atas kuasanya setelah memberikan jatah umur untuk ciptaannya? Apa mungkin Tuhan tidak lebih jauh berbeda seperti tirani yang bertahun-tahun berkuasa dan berhak bebas pilih dan tembak mencabut nyawa warga.



Apakah Tuhan sengaja untuk merumuskan manusia untuk menjadi hiburan atas prosess matinya raga manusia. Namun apakah Tuhan di sana cenderung jauh lebih terhibur dengan matinya seorang pendosa secara bertahap dimulai dengan kebiasaan buruk yang berimpak pada kesehatan yang mengerogoti kesehatan untuk mengantarakannya pada skenario kematian ciptaan Tuhannya.



Maka dari itu sudah setepatnya interpretasi nyawa manusia terlihat lebih jelas dalam bentuk podium dan kemegahan Arena gladiator. Tidak lebih hidup dan matinya manusia menjadi hiburan bagi sang raja dan siapa saja, Walau pada akhirnya kejayaan terikat senantiasa ada sebuah komplikasi problematik bagi yang hidup maupun yang mati.



Bila hidup dan mati adalah tentang cerminan dari mengemban konsekuensi. Maka bunuh diri ialah seharusnya merupakan salah satu bentuk opsi yang boleh manusia pilih tanpa paksaan maupun keadaan bagi yang terobsesi memilih mati di usia muda. Maka persetan dengan jatah umur bila dalam jatah umurmu yang diberi hanya dituliskan untuk menjalani perulangan Sisyphus dalam versi mencari sepiring nasi yang terus diulang berkali-kali di setiap pagi.

Perspektif

Sabtu, 23 Desember 2023

0 komentar

Aku hadir tidak untuk membuat semua orang dalam cerita menjadi bahagia, selalu dibutuhkan tokoh lain untuk membuat keseimbangan sebagai kesempurnaan dalam cerita. Dengan ini ku harap dunia dapat memahami tentang gelap dari sebuah sisi, sebagaimana Yin dan Yang akulah sosok yang dipilih berlabuh di sisi hitam yang menjalani peranannya sebagai perusak pesta.



Bagaimana seharusnya sang hitam untuk dapat dimengerti agar dapat diterima oleh kekalnya variasi warna? apakah tidak lebih jauh berbeda sebagaimana konsistennya rentetan hantaman ombak kepada sang karang, yang telah membawakan baginya definisi keteguhan dan kemantapan untuk dapat tetap terus berdiri tegak menantang meski dihadapkan dengan keadaan yang senantiasa menyakitkan.



Kepada matahari yang senantiasa selalu dinanti kehadirannya dari sisi timur, di baliknya terkubur sebuah rasa iri dan kecemburuan tertinggi dari sang purnama atas matahari, yang kehadirannya selalu menjadikannya saksi di setiap inci di kolong Bumi ini, terhadap tahap awalan sebuah mimpi dan langkah sederhana upaya sebagai memperjuangkan mimpi dan kehidupan.



Aku percaya bahwa Tuhan di sana siapapun nama dan bagaimanapun bentuknya telah sengaja untuk minitipkan belati kepada sang gelap untuk memantapkan keyakinan, akan suatu keharusan membunuh rasa iri kepada bunga tulip yang berwarna-warni agar belajar untuk dapat mengerti tentang bagaimana eksistensi dan kayanya hakikat makna yang ada pada dirinya.



Menjadi musuh utama pada jalan cerita dalam kehidupan yang sejatinya tidak hanya selebar daun telinga dan sejauh mata memandang, Matahari dengan sinarnya bisa menjadi pemantik semangat asa dalam permulaan hari, namun setelahnya tenangnya kegelapan malam menjelma menjadi selimut ternyaman untuk sepenuh lelahnya raga & rasa pasca berkelahi dengan nasib dan takdir yang diberi dari sang Ilahi.



Pada akhirnya semua hanya tentang ganas dan manisnya sang waktu yang sejatinya mempunyai dua sisi untuk memeluk sekaligus membunuh. Serta harapan-harapan atas pengertian masih menjadi sebuah bentuk impian terjauh, Karena angkuhnya waktu memaksa siapapun untuk membisu atas kisah dan peristiwa tanpa peduli apapun itu.

Twenty One

Senin, 27 November 2023

0 komentar

Masih belum selesai aku berduka sejak tiadanya Milan Kundera namun hariku kembali dihantam duka di kala tibanya kabar bahwa dirimu telah tiada. Yang tidak bisa ku protes kepada Tuhan atas pemanggilan dirimu untuk kembali ke sisinya. Membuat nestapa ini seakan tidak mempunyai akhirnya, dan semua hanya tinggal menunggu gilirannya tiba.



Dan kembali lagi aku di sini memanjatkan doa atas kepergiannya terlepas benar atau salahnya caraku dalam melakukannya. Aku memilih untuk menuliskannya agar niscaya Dunia dapat membaca dan mengerti bahwa seorang pendosa juga dapat merasakan sebuah kelamnya kesedihan, dinginnya kehilangan dan sunyinya ketercewaan terhadap sang waktu yang tidak bisa dinego untuk diminta menunggu.



Dengan sepenuhnya perasaan dan kesedihan yang bersemayam di dalam diriku, terdapat sebuah rasa penyesalan yang telah menemui batas akhir titik ujung di ruang kesempatan. Untuk mengutarakan tentang betapa rumitnya sebuah perasaan yang pada waktu itu telah sama-sama kita sepakatkan, bahwa nanti semuanya akan dibicarakan pada jumpa selanjutnya di minggu ke-tiga.



Sayangnya apa yang telah kita rencanakan dibalas dengan rencana Tuhan yang tiba dengan skenario terbaiknya. Walau begitu aku ingin sepenuhnya kau tahu bahwa aku telah memaafkan dirimu, Syukurlah pada akhirnya kau dapat mengerti bahwa sebuah sepenggal kata maaf tidak akan membunuhmu walau itu menjadi kata terakhir dari mu.



Demi hari-hari yang berlalu bersama dirimu juga dengan salah dan benarnya diriku, hal apapun silih terjadi serta kondisi senantiasa berganti, Bacalah tulisan malam dan tulisan kelam yang kuciptakan, tulisan yang kuciptakan dalam pengaruh alkohol di sepanjang emperan pinggiran jalan Matraman inilah tulisanku sang pendosa yang malang.



Melihat lebih jauh lagi ternyata masih ada kesempatan, karena niscaya masih selalu ada beberapa persen kita dapat berjumpa di Surga. Atau mungkin walau nanti pasca ku mati nanti kita memang tidak ditakdirkan untuk dapat bertemu, niscaya akan selalu ada beberapa persen kesempatan bagiku melihat sisi terindah dari dirimu di Surga dari sisi terburukku di dalam Neraka.